|
Written by Jariaman 'J Barus
|
|
Jakarta, JumaCyber - Suatu hari aku digelitik satu pertanyaan. Pertanyaannya simple tapi cukup berjuang juga untuk menjawabnya. "What is your motivation?" , "Apa yang membuat anda melompat dari tempat tidur di pagi hari?"
Kecendrungannya hari-hari kita lalui berlalu saja. Semuanya sedang-sedang saja, tidak terlalu semangat tapi juga tidak terlalu loyo. Tapi begitu ada masalah sedikit jadi ga punya pegangan untuk tetap berjuang. Bangun pagi buru-buru mandi dan sarapan berangkat kerja, jalan macet, sampai di kantor disibukkan dengan tugas-tugas, jam 12 makan, lanjut lagi sampai 17.30. Pulang kena macet lagi, sampai di rumah sudah capek. Habis makan malam nonton tv sebentar terus tidur. Dan tiba-tiba sudah terlewati satu tahun hidup seperti itu-itu saja.
Dengan kondisi rutinitas seperti di atas membuat kata-kata "Freedom" begitu diagungkan. Pengen rasanya punya kebebasan waktu, punya kebebasan finansial dan ga perlu hidup rutin yang membosankan itu. Tapi bagaimana caranya ya? "To be entrepreneur" . Tapi apa benar pengusaha punya kebebasan waktu? Seringnya bahkan pengusaha juga harus bekerja pada hari libur karena ingin menjaga pelanggan. Pelayanan 24x7.
Dalam perenunganku akhirnya harus mengakui "That is your life, so love it." Sampai kapan mau mengeluh hidup bekerja seperti itu. Mungkin yg perlu diubah cara pandang kita terhadap situasi dan hari-hari kita. Bisa ngga ya, kita tetap bernyanyi pada saat macet di jalan? Sayang sekali jika kita tidak enjoy di tempat kerja yang kita habiskan 1/3 dari kehidupan kita. Kalau memang pekerjaan kita berguna bagi orang lain, cintai itu, lakukan terbaik.
Berikut tips yang coba saya terapkan agar lebih termotivasi dalam bekerja:
|
|
Written by Jariaman 'J Barus
|
|
Jakarta, JumaCyber - Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu seperempat terbuka. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.
Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Wah, rupanya di rumah ini baru saja ada pesta besar, demikian pikir mereka.Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja. Kado-kado berikut TV dan kipas angin yang ada di ruang tamu langsung mereka gotong. Dari ruang makan, kulkas dan peralatan masak yang masih baru-baru habis mereka gasak.
Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sosok sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 7 of 28 |