|
Ditulis oleh Julbintor Kembaren
|
|
Hari ini aku teringat sebuah kejadian kecil yang cukup sepele sebenarnya tapi mengena dihati. Hari itu Aku pulang dari kuliah terburu-buru. Aku harus segera tiba di bogor dengan cepat, karena akan ada PA Anak Remaja KAKR Bogor. Hari itu aku didaulat menjadi Pembawa Firman. Aku sudah cemas sekali, jam sudah menunjukkan pukul 17.30 sementara bus ke arah bogor belum muncul juga di Uki.
Ugh, hatiku mendumel sejenak. Aku sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari ayat, ilustrasi, dan tantangan untuk anak-anak Remaja. Bagaimana mungkin hal ini akan gagal begitu saja dan terbuang sia-sia hanya gara-gara tidak ada bus ke arah bogor. Tuhan sungguh tidak adi, pikirku dalam hati. |
|
Ditulis oleh Rantho Tarigan
|
|
Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya. Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah.Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda. |
|
Ditulis oleh Jey Charo
|
|
Bacaan: Lukas 12:22-32 "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu,...- Lukas 12:22 Kekuatiran menjadi momok bagi kebanyakan orang. Ada banyak hal dalam hidup ini yang membuat kita permata GBKP kuatir, misalnya : persoalan dalam pekerjaan, pencarian pasangan hidup, masalah dalam sekolah/kuliah, sakit penyakit yang kita derita, dll. Sebagai anak Tuhan kita bisa kuatir, tapi tidak boleh dikuasai kekuatiran. Seperti peribahasa Cina kuno berkata, “Biarkan burung-burung terbang di atasmu, tapi jangan ijinkan burung-burung itu membuat sarang di atas kepalamu.” Ada beberapa alasan mengapa kita sebagai anak Tuhan tidak boleh kuatir. |
|
Ditulis oleh Nomi Sinulingga
|
(Refleksi ulang tahun PERMATA GBKP ke-60)
Ketika semangat mulai pudar, daya juang semakin lemah, idealisme mulai menguap dan budaya instan menjadi gaya hidup...mau jadi apakah orang muda? Setiap masa yang dilalui memiliki tantangan dan pergumulan sendiri. Saat ini, langkah kaki PERMATA sudah masuk usia ke-60 dan era yang dijalani adalah era informasi. Dunia semakin global dan teknologi informasi membuat jarak menjadi nol. Tuntutan kompetensi Sumber Daya Manusia semakin tinggi supaya layak bermain di era globalisasi ini. Bagaimanakah dengan SDM PERMATA ketika usia semakin senja?
|
|
Ditulis oleh Rantho Tarigan
|
|
Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tidak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit dan mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.
Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai.
Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar dan asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah pria itu kehilangan semua miliknya.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Page 1 of 2 |