PermataGBKP Online

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
JA slide show
 
Home
Jangan Pernah Hilang Harapan PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Ditulis oleh Rantho Tarigan   

Ibrani 10:23; 1Petrus 1:3
 
Aku sedang menunggu di luar ruangan ketika dokter itu keluar menemuiku. “Istri anda dalam keadaan baik, tetapi keadaan bayinya membahayakan nyawanya. Anda harus memutuskan, mau menyelamatkan istri, atau bayi anda.” Aku gemetar dan pucat pasi. Aku menginginkan keselamatan keduanya tetapi itu tidak mungkin. Dalam kepanikanku, aku meminta waktu kepada dokter untuk berdoa sebelum memberi keputusan. Keringat dingin mengucur di tubuhku sementara aku menenggelamkan  wajah pada kedua telapak tanganku. Aku sedih, takut dan gelisah. Airmata membasahi pipiku sementara aku menaikan doa yang tidak terucap kepada Tuhan. Suasana disekitar ruang bersalin yang dingin dan sepi semakin menambah besar ketakutanku. Akupun bangkit untuk menemui suster yang dari tadi menungguku, “Katakan pada dokter agar ia menyelamatkan istriku, tetapi usahakan sedapat mungkin menyelamatkan bayi ku juga.”

 

Persalinan berjalan sangat sulit. Dokter berusaha mengeluarkan bayi dari rahim istriku yang sudah hamper kehabisan tenaga. Dengan sebuah alat, dokter mengupayakan agar kepala sang bayi bias segera keluar. Tiba tiba darah segar muncrat keluar diikuti bola mata yang mengelantung. Berpacu dengan waktu dokter berusaha keras mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Proces yang cepat tersebut mengeluarkan bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah. Dokter memerintahkan agar suster membersihkan tubuh bayi sebelum dimasukan ke kantong mayat. Saat sedang membersihkan itulah, sustyer melihat denyut jantung yang lemah di dada sang bayi. Denyut jantung yang lemah itu menjadi harapan pertama hidupnya sang bayi. Bayi itupun segera dibawah keruang khusus. Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. NamanyaWiliam Cutts. Di usia di mana bayi normal sudah mulai berjalan, William baru belajar merangkak.  Mata kanannya rusak berat dan tidak dapat melihat, kepala sebelah kanan agak besar, bahunya miring. Jalannya miring seperti tiang yang hampir roboh. Dokter mengatakan bahwa ia tidak mungkin bias belajar seperti manusia normal, karena otaknya terganggu. Namun, apa komentar dokter dan bagaimana pun keadaannya, kami terus merawatnya dengan penuh kasih saying. Kami mempunyai harapan bahwa kelak anak itu akan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Itulah harapan dan doa kami senantiasa.  Disaat kami melihat William denga susah paya berusaha menyeimbangkan badannya saat berjalan, kami terus menyimpan harapan itu.  Singkat cerita, William menyelesaikan sarjananya di sekolah Theologia dan ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya.  Dalam kelemahannya, William terus melangkah. Ia dipakai Tuhan dan pelayanannya selalu diteguhkan dengan mujizat! Semuanya dimulai dari sebuah harapan, yaitu harapan akan kehidupan yang bersumber dari denyut jantung lemah seorang bayi yang nyaris dimasukan kedalam kantong mayat.  Harapan demi harapan tumbuh, dan satu persatu harapan itu digenapi, karena harapan di dalam Tuhan Yesus bukanlah harapan yang kosong. Mereka yang terus menaruh harapan kepadaNya untuk sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin sekalipun, tidak akan pernah dipermalukan.

 

Harapan menjadikan kita bersemangat menjalani hidup ini. Tidak ada seorangpun yang bisa merampas harapan itu dari dalam diri kita, kecuali kita sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi berharap. “Langit tidak selamanya diselimuti awan gelap, tak lama berselang awan gelap itu akan hilang dan sebagai gantinya, matahari akan bersinar dengan indahnya”.  Apa yang sedang anda harapkan untuk masa depanmu, pendidikanmu, pekerjaanmu, pernikahanmu, anak-anakmu dan pelayananmu? Sekecil apapun kemungkinan untuk berharap, teruslah berharap. Tuhan sanggup bekerja mewujudkan harapan-harapan kita yang dilandaskan pada kasih dan kuasanya yang ajaib!
 

Komentar (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy